Indahnya lebaran bersama teman asing

October 30, 2008

Sebuah keharmonisan dalam kebersamaan yang terbentuk antar warga asing di disekitar Universitas Gifu pada saat lebaran Idul fitri 1 Oktober 2008 bisa dilihat dalam link berikut:


Ohanami

April 2, 2008

ohanami Lab of Applied Microbiology

Saat ini, udara di sekitar Jepang sudah mulai menghangat. Setelah kurang lebih 3 bulan kami harus selalu  bergelut dengan jaket tebal, heater, futong (kasur dan selimut tebal)dan perlengkapan penghangat tubuh yang lain, kini saatnya kami bisa menikmati hangatnya suasana Jepang di musim semi. Indahnya musim semi di Jepang dijadikan salah satu pertanda mengawali hidup baru. Hidup dengan semangat baru dengan harapan dan angan-angan baru.

Seperti yang telah diketahui bersama, tahun ajaran belajar di jepang, serentak berakhir di bulan maret. Kalau menurut saya, bulan maret adalah bulan kesedihan, bulan perpisahan. Dengan adanya sistem rolling pekerjaan, yang mengharuskan seorang pekerja/karyawan (terkhusus pegawai negeri) pindah pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain (biasanya setelah 2 atau 3 tahun bekerja di suatu tempat) bulan maret merupakan masa-masa terakhir mengakhiri semuanya. Mengakhiri sebuah rutinitas pekerjaan di suatu tempat setelah 2 atau 3 tahun digelutinya. Tentunya berpisah dengan rekan kerja setelah beberapa tahun menghadapi suka duka bersama, adalah sesuatu yang tidak mengenakkan. Setidaknya itulah yang saya pikirkan, tapi tidak tahu sebenarnya seperti apa yang dipikirkan oleh orang jepang tentang adanya sistem perputaran pekerjaan ini.

Tak terkecuali komunitas kami yang tidak seberapa di kota Gifu ini. Dari 5 students yang lulus program doktoral, 3 memutuskan untuk pulang ke Indonesia, 1 memutuskan untuk tetap bersama kami di Gifu, dan 1 orang lagi harus pindah ke kota lain. Tentunya tidak enak, ditinggal pergi sahabat, yang setelah beberapa tahun menjalani kehidupan bersama di suatu tempat. Iya, di kota kecil inilah kami seiring sekata dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang mahasiswa yang merantau menimba ilmu di negeri orang. Perpisahan memang selalu tidak mengenakkan.

Setelah bulan maret berlalu dan memasuki awal bulan april, seiring dengan mekarnya sakura di hangatnya suasana sekitar jepang, semua seolah mengalami sebuah perubahan baru. Teman baru, kelas baru, dan suasana baru. Semoga seiring dengan suasana yang menghangatkan jiwa ini, semangat untuk menuju ke arah yang lebih baik, tetap terjaga dalam benak.

Ohanami adalah istilah yang digunakan untuk mengartikan sebuah  aktifitas menikmati suasana mekarnya sakura bersama rekan, sahabat, kerabat, maupun keluarga. Suasana mekarnya sakura ini, dimanfaatkan untuk menikmati nikmatnya makanan dibawah pohin sakura yang sedang mekar. Nikmat memang, senikmat hirupan hangatnya udara jepang menjelang musim semi.


Belajar di Jepang

February 21, 2008

dcf_0140.jpg

Sejak pertama kali dinyatakan sebagai calon mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Jepang, atas biaya dari Pemerintah Jepang, perasaan senang serta cemas mebayang di depan mata. Maklum saat itu belum pernah merasakan pendidikan di luar negeri yang saya pikir memang pasti akan berbeda dengan yang telah dialamai selama menyelesaikan jenjang sarjana di dalam negeri.

Tahun 2005, tepatnya pada bulan Oktober tanggal 4, akhirnya kutapakkan kakiku untuk yang pertama kali di negeri sakura ini. Saat itu, masih sangat teringat ketika sensei menjemput di pintu keluar bagian imigrasi Chubu International Airport seraya membentangkan kertas karton bertuliskan Mr. Nanung Agus Fitriyanto. Wow, surprise. Sensei yang terhitung sudah berumur ini, rela menjemputku di bandara sendirian, sedangkan jarak dari Universitas ke bandara tergolong jauh, sekitar 1 jam naek kereta. Sebenarnya bisa saja dia menyuruh anak buah (sensei selab yang relatif lebih muda dari beliau, misalnya) untuk menjemputku di bandara. Tapi karena rasa tanggung jawab yang besar, maka dia putuskan untuk menjemput sendiri ke bandara.

Dari pertama sebelum ketemupun, dari beberapa kali wawancara dan diskusi via email, saya tahu persis bahwa sensei yang satu ini benar-benar baik hati. Itulah salah satu yang mendasari dan menguatkan tekadku untuk belajar ke Jepang.

Dan satu hal yang beliau tekankan selama hasil ngobrol ringan di dalam kereta dalam perjalanan pulang dari bandara menuju kampus, adalah KEMANDIRIAN. Belajar di Jepang, apalagi untuk jenjang graduate school (pasca sarjana) haruslah mandiri. Sensei kadang2 terkesan hanya sebagai penaggungjawab, penentu keputusan, dan penguji saja. Sensei tidak akan pernah mendekte kita harus A, harus B, ataupun harus C. Satu hal lagi. GAMBATTE (mungkin kalau dibahasa indonesiakan bisa berarti, KEMAUAN YANG KERAS dan TIDAK PANTANG MENYERAH).

Hal terpenting yang bisa diambil dari pembicaraan awal dengan sensei didalam kereta, akhirnya saya pegang teguh selama menjalani pendidikan pasca sarjana di Jepang ini.


UJIAN S2

February 13, 2008

Hari ini adalah hari rabo tanggal 13 Februari 2008, dan tidak seperti hari-hari biasanya karena besok musti melaksanakan presentasi hasil penelitian selama kurang lebih 2.5 tahun ke belakang. Ya, besok adalah waktunya untuk “Sotsugyo hapyo”. Perasaannya sich sudah belajar sekuatnya. Sudah berusaha untuk menampilkan presentasi yang secantik-cantiknya. Semua data yang ada sudah ditunjukin ke Prof, dan seperti yang dikira sebelumnya, buuuanyak data yang akhirnya ndak bisa ditampilin karena terbatasnya waktu presentai.

Daijobu, ichio sensei sudah mengetahui bahwa data2 tersebut sudah diperoleh dengan susah payah selama 2.5 tahun. Meskipun ndak ikhlas juga karena harus tersisihkan dari ujian akhirku. Besok rencananya ujian akan dimulai jam 09.10. Start dari OO kung, teman china, yang ndak tahu bakalan bisa ujian dengan baik apa endak. Lha gimana ndak ragu, kalau ngomong aja puelannya minta ampun, dan bikin yang dengerin jadi ndak sabaran. Dan setelah Okuda san, insyaAllah I akan ujian di nomer urut ke-3.

Seneng juga dapet nomer urut ke-3 di hari pertama. Prinsipnya semakin cepat ujian semakin bagus, karena bakalan segera selesai. Hari ini sudah sebisanya melaksanakan latihan “hapyou rensyu” sampi mulutnya berbusa-busa. Tadi sempat khawatir juga karena ada kesepakatan untuk menggunakan komputer satu saja. Dan komputer sensei yang terpilih karena selain kecil, kompi ini masih tergolong canggih juga. Tapi sayangnya, officenya masih 2003. Dan I ngetik powerpointnya pakai office 2007. Waduh benjut ini. jadi buanyak perubahan2 yang tidak diinginkan. Tapi alhamdulillah karena perbaikan telah selesai.

Kalau ngelihat persiapan anak jepang, ya namanya mahasiswa. Tingkat kecerdasannya macem2. ada yang kelihatan pinter tapi ada juga yang biasa2 saja. Cuma yang pasti, kesungguhan dan semangat mereka dalam mempersiapkan presentasi yang bagus, perlu diacungi jempol. Dan maklum karena ujian besok merupakan puncak kepuasan dalam menyampaikan hasil penelitian selama ini, ke orang lain. Dan saya yakin, mereka juga ingin menyampaikan yang terbaik buat diri mereka sendiri. Jangan sampai sensei malu dihadapan khalayak umum karena mahasisawanya ndak bisa presentasi dengan baik. 

yoooosh. Bismillahirokhmanirokhim saja. Semua usaha yang terbaik sudah dilakukan, tinggal besok bagaimananya, dipasrahin ke Yang Kuasa saja. Ya Allah, semoga engkau beri kelancaran pada hambamu ini. Allahumma amin

Gifu, 13 Februari 2008

Wassalam

(yang baru dogi-dogi suru)


Bunuh diri

January 17, 2008

Pertama, membayangkannya saja ngeri nggak ketulungan…

Hari ini salah satu channel TV swasta indonesia mengakabarkan secara terpisah 2 kasus bunuh diri di tanah air. Keduanya mempunyai alasan yang sama yaitu uang.

Kasus pertama bercerita tentang pasangan yang baru 5 bulan menikah, pasangan yang seharusnya baru menikmati indahnya masa-masa pengantin baru itu harus berakhir tragis. Sang suami nekad “nyemplung” ke sumur sempit, dan nggak sempat ditolong oleh warga sekitar, sehingga mati lemas kebanyakan nelen air sumur. Sebanarnya usaha bunuh diri ini sudah merupakan yang kedua kalinya, setelah yang pertama gagal karena keburu ketahuan warga. Alasannya adalah HUTANG. Diduga, karena sang suami harus menanggung hutang yang bejibun, guna melangsungkan acara pernikahan yang meriah, dan tidak bisa membayarnya, maka dia memilih mati dan membawa hutangnya tersebut ke alam kubur.

Kasus yang kedua adalah pengusaha tempe yang bangkrut akibat melonjakknya harga kedelai, usahanya macet dan dia pilih mati, dari pada menghadapi kebangkrutannya tersebut. Siapa yang salah? Mengapa mereka harus mati sia-sia, hanya karena kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan.

Pada umumnya, kebanyakan kasus bunuh diri di Indonesia, dikarenakan oleh himpitan kondisi perekonomian yang menyebabkan orang cepat mencari jalan pintas untuk mati. Mungkin mereka berpikir, dengan mati, semua urusan akan beres. So, apakah benar demikian?

So,bagaimana dengan Jepang?

Di negeri matahari terbit ini, kasus bunuh diri relatif tinggi juga. Denger-denger, orang jepang bisa janjian di internet untuk bunuh diri bareng-bareng. Wow fantastik. Kurang lebih setengah tahun yang lalu, teman se lab saya juga mati mengenaskan di dalam kamar apatonya. Saat itu, baru setelah 3 hari dari kematiannya, jasad diketahui oleh khalayak umum. Padahal kalau dipikir, cowok yang baru saja lulus dari undergraduate program terebut adalah salah satu atlet baseball andalan di universitas. Sayang memang, apa yang dipikirkannya? Dia yang masih bujang, dengan body atletis, belum punya tanggungan keluarga ataupun himpitan ekonomi, ternyata harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Mungkin ada sebab lain yang berat dirasakannya sehingga harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

So, 1001 alasan orang untuk mengakhiri hidupnya, meski kadang dengan alasan yang ndak masuk diakal. huh…… 


Pak Harto oh Pak Harto

January 14, 2008

suharto.jpg

Setelah beberapa hari terakhir, gempar diberitakan oleh media masa karena “kesakitan” yang dialaminya, sekarang, dari kiai sampai para normal tak ketinggalan untuk bersimpatik kepadanya.

Pak Harto, mantan Presiden RI yang ke-2, yang telah memimpin negeri ini selama 32 tahun, sekarang telah “sakit yang benar-benar sakit” di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Karena karma, atau penghapus dosa? Tiada yang tahu. Yang pasti komplikasi hampir diseluruh organ telah terjadi. Tidak ada pilahan baginya untuk hidup dengan menggunakan bantuan alat yang tertempel di beberapa bagian tubuh.

Pak Harto, yang jendral berbintang 5 ini, lahir pada tanggal 8 juni 1921 di Kemusu argamulya, Jawa, Indonesia telah berhasil memegang rekor terlama dalam memimpin negeri ini selama kurun waktu hampir 32 tahun (1967-1998).

Bagi beberapa pihak, mungkin sangat diuntungkan atas kepemimpinan beliau saat itu, tapi tidak sedikit pula yang merasa tertindas, dibodohi dan tak tanggung-tanggung harus masuk buih selama tahuanan atas keputusan yang beilau ambil. Tiada gading yang tak reatak, terlepas dari dia benar atau salah, biarlah menjadi urusan pribadi beliau dengan yang Maha Kuasa. Sekarang yang pasti, dengan kondisi yang masih tergeletak lemah di RS, kita patut untuk bersimpait kepadanya.

“Semoga cepat sembuh, Pak Harto. Semoga hikmah besar bisa dikau perolah dari apa yang telah kau alami saat ini. Amin”


Ralstonia sp. LU-1

January 7, 2008

Tahu apa maksud judul postingan saya tersebut?

Itu adalah strain microorganism yang saya temukan dari hasil screening menggunakan Lutetium pada konsentrasi tertentu yang saya masukkan dalam nutrient agar.

Di era modernisasi ini, peranan mikrobiologi dalam kehidupan nyata semakin diperlukan keberadaannya. Disamping tuntutan menciptakan “enviromtental friendly activities” di berbakai sektor kehidupan, bidang microbiologi bisa dijadikan pijakan untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Kenapa begitu.

Isu-isu panas seperti limbah yang mengandung logam berat yang notabene nya tidak bisa dicerna oleh tubuh dan cenderung untuk terakumulasi oleh makhluk hidup, akan terus menjadi topik panas, selama manusia belum bisa mencari alternatif cara untuk mengatisipasinya.


“Pengajian Bapak-bapak” PPI Komsat Gifu

January 7, 2008


Libur musim dingin, natal dan tahun baru

January 3, 2008

Disini, saat ini, dan sejak minggu lalu, kampus seperti tak berkehidupan dan terasa benar-benar sepi. Sepi, menambah dinginya  suasana musim dingin di saat pergantian tahun 2007/2008. Sangan berbeda dengan suasana di beberapa mal-mal besar di sekitar sini. Musim liburan sangat dimanfaatkan oleh orang jepang untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Dan terkhusus dengan libur akhir tahun, biasanya toko-toko pada obral barang dagangannya.

Seperi pengalaman hari kemaren, gara-gara harus ke toko 100 yen di malera (mal terbesar di Gifu) untuk mencari keperluan seminar minggu depan, saya harus mengantri di macetnya jalan menuju ke mal tersebut. Belum ditambah lagi dengan susahnya mencari tempat parkiran setelah berhasil memasuki area mal.

Wow fantastis. Kadang kalau dipikir, dengan daya beli yang sebegitu tinggi, apa sich yang ndak kebeli sama orang2 jepang itu? Cuma kalau musim obral dan banting harga begini, lha kok yo sama saja, mereka pada berjubel untuk mendapatkan barang murah. Intinya ya sama saja, ndak mikir orang punya duit apa enggak, kalau ada barang yang murah, ya disabet saja.

Cuma, sayangnya tidak sama dengan kios2 kecil, ataupun toko2 stasioneri deket rumah. Mereka mending menutup tokonya, meiburkan karyawan, dan ikut menikmati liburan akhir tahun ini. Kalau dibayangkan di Indonesia, ya seperti inilah suasanya lebaran idul fitri di kampung halaman.

Anyway, besok, jumat 4 Januari 2008, kampus, sekolah, dan institusi pendidikan yang lain, bakalan mulai beraktifitas lagi, tak terkecuali, tempat-tempat yang lain, seperti restoran, tempat belanja sayur, dan lain-lain.

Selamat tinggal tahun 2007 dan selamat menyongsong tahun 2008. Semoga tahun ini bisa menambah semangat beajar, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Wassalam

sebuah catatan di awal tahun 2008


Bagaimana anak-anak SD Jepang belajar bahasa inggris

December 30, 2007

Sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu, ada kebijakan baru dari departemen pendidikan jepang, untuk memasukkan kurikulum Bahasa Inggris bagi pendidikan sekolah dasar. Ini berimplikasi pada keadaan dimana anak-anak 1 nen sei (Kelas 1 SD) sampai dengan 6 nen sei (Kelas 6 SD) harus belajar bahsa inggris di sekolahnya.

Core dari pembelajaran bahasa inggris yang dicanangkan oleh pemerintah jepang adalah, bagaimana menjadikan bahasa inggris, menyenangakan bagi siswa, dan membiasakan siswa untuk sering berinteraksi dengan orang asing, tak terlepas dengan orang asing yang menggunakan bahasa inggris bukan sebagai bahasa ibu-nya. Oleh karena itu dibentuklah EF (english friends) untuk Sekolah Dasar (Syogakko).

Program ini diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah (Shi) yang berguna untuk merekrut orang2 yang bisa berbahasa inggris, enak diajak ngobrol, dan bisa menghandle anak kecil. Kebetulan, kebanyakan yang masuk dalam program ini adalah mahasiswa asing di Gifu University.

Tentunya manajemen mengajar anak kecil, sangatlah berbeda dengan penguasaan pengajaran terhadap mahasiswa. Kalau mahasiswa bisa diajak berlogika, anak kecil akan lebih senang diajak berangan-angan. Bermain, tertawa, menangis, berkelahi, adalah kesukaan mereka.  Kita harus pamah bener dengan sifat-sifat mereka ini. Dengan kegemaran mereka ini.

Belajar artinya mengulang, dengan mengulang orang akan cepat hapal dan paham dengan kata2 sederhana dalam bahasa inggris. Selain itu dengan permainan-permainan interaktif yang melibatkan siswa secara langsung, akang semakin membuat bahasa inggris lebih menyenangkan.

Wassalam