February 21, 2008

Sejak pertama kali dinyatakan sebagai calon mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Jepang, atas biaya dari Pemerintah Jepang, perasaan senang serta cemas mebayang di depan mata. Maklum saat itu belum pernah merasakan pendidikan di luar negeri yang saya pikir memang pasti akan berbeda dengan yang telah dialamai selama menyelesaikan jenjang sarjana di dalam negeri.
Tahun 2005, tepatnya pada bulan Oktober tanggal 4, akhirnya kutapakkan kakiku untuk yang pertama kali di negeri sakura ini. Saat itu, masih sangat teringat ketika sensei menjemput di pintu keluar bagian imigrasi Chubu International Airport seraya membentangkan kertas karton bertuliskan Mr. Nanung Agus Fitriyanto. Wow, surprise. Sensei yang terhitung sudah berumur ini, rela menjemputku di bandara sendirian, sedangkan jarak dari Universitas ke bandara tergolong jauh, sekitar 1 jam naek kereta. Sebenarnya bisa saja dia menyuruh anak buah (sensei selab yang relatif lebih muda dari beliau, misalnya) untuk menjemputku di bandara. Tapi karena rasa tanggung jawab yang besar, maka dia putuskan untuk menjemput sendiri ke bandara.
Dari pertama sebelum ketemupun, dari beberapa kali wawancara dan diskusi via email, saya tahu persis bahwa sensei yang satu ini benar-benar baik hati. Itulah salah satu yang mendasari dan menguatkan tekadku untuk belajar ke Jepang.
Dan satu hal yang beliau tekankan selama hasil ngobrol ringan di dalam kereta dalam perjalanan pulang dari bandara menuju kampus, adalah KEMANDIRIAN. Belajar di Jepang, apalagi untuk jenjang graduate school (pasca sarjana) haruslah mandiri. Sensei kadang2 terkesan hanya sebagai penaggungjawab, penentu keputusan, dan penguji saja. Sensei tidak akan pernah mendekte kita harus A, harus B, ataupun harus C. Satu hal lagi. GAMBATTE (mungkin kalau dibahasa indonesiakan bisa berarti, KEMAUAN YANG KERAS dan TIDAK PANTANG MENYERAH).
Hal terpenting yang bisa diambil dari pembicaraan awal dengan sensei didalam kereta, akhirnya saya pegang teguh selama menjalani pendidikan pasca sarjana di Jepang ini.
6 Comments |
Jepang serabutan |
Permalink
Posted by nanung agus fitriyanto
February 13, 2008
Hari ini adalah hari rabo tanggal 13 Februari 2008, dan tidak seperti hari-hari biasanya karena besok musti melaksanakan presentasi hasil penelitian selama kurang lebih 2.5 tahun ke belakang. Ya, besok adalah waktunya untuk “Sotsugyo hapyo”. Perasaannya sich sudah belajar sekuatnya. Sudah berusaha untuk menampilkan presentasi yang secantik-cantiknya. Semua data yang ada sudah ditunjukin ke Prof, dan seperti yang dikira sebelumnya, buuuanyak data yang akhirnya ndak bisa ditampilin karena terbatasnya waktu presentai.
Daijobu, ichio sensei sudah mengetahui bahwa data2 tersebut sudah diperoleh dengan susah payah selama 2.5 tahun. Meskipun ndak ikhlas juga karena harus tersisihkan dari ujian akhirku. Besok rencananya ujian akan dimulai jam 09.10. Start dari OO kung, teman china, yang ndak tahu bakalan bisa ujian dengan baik apa endak. Lha gimana ndak ragu, kalau ngomong aja puelannya minta ampun, dan bikin yang dengerin jadi ndak sabaran. Dan setelah Okuda san, insyaAllah I akan ujian di nomer urut ke-3.
Seneng juga dapet nomer urut ke-3 di hari pertama. Prinsipnya semakin cepat ujian semakin bagus, karena bakalan segera selesai. Hari ini sudah sebisanya melaksanakan latihan “hapyou rensyu” sampi mulutnya berbusa-busa. Tadi sempat khawatir juga karena ada kesepakatan untuk menggunakan komputer satu saja. Dan komputer sensei yang terpilih karena selain kecil, kompi ini masih tergolong canggih juga. Tapi sayangnya, officenya masih 2003. Dan I ngetik powerpointnya pakai office 2007. Waduh benjut ini. jadi buanyak perubahan2 yang tidak diinginkan. Tapi alhamdulillah karena perbaikan telah selesai.
Kalau ngelihat persiapan anak jepang, ya namanya mahasiswa. Tingkat kecerdasannya macem2. ada yang kelihatan pinter tapi ada juga yang biasa2 saja. Cuma yang pasti, kesungguhan dan semangat mereka dalam mempersiapkan presentasi yang bagus, perlu diacungi jempol. Dan maklum karena ujian besok merupakan puncak kepuasan dalam menyampaikan hasil penelitian selama ini, ke orang lain. Dan saya yakin, mereka juga ingin menyampaikan yang terbaik buat diri mereka sendiri. Jangan sampai sensei malu dihadapan khalayak umum karena mahasisawanya ndak bisa presentasi dengan baik.
yoooosh. Bismillahirokhmanirokhim saja. Semua usaha yang terbaik sudah dilakukan, tinggal besok bagaimananya, dipasrahin ke Yang Kuasa saja. Ya Allah, semoga engkau beri kelancaran pada hambamu ini. Allahumma amin
Gifu, 13 Februari 2008
Wassalam
(yang baru dogi-dogi suru)
Leave a Comment » |
Lain-lain |
Permalink
Posted by nanung agus fitriyanto