Ohanami

April 2, 2008

ohanami Lab of Applied Microbiology

Saat ini, udara di sekitar Jepang sudah mulai menghangat. Setelah kurang lebih 3 bulan kami harus selalu  bergelut dengan jaket tebal, heater, futong (kasur dan selimut tebal)dan perlengkapan penghangat tubuh yang lain, kini saatnya kami bisa menikmati hangatnya suasana Jepang di musim semi. Indahnya musim semi di Jepang dijadikan salah satu pertanda mengawali hidup baru. Hidup dengan semangat baru dengan harapan dan angan-angan baru.

Seperti yang telah diketahui bersama, tahun ajaran belajar di jepang, serentak berakhir di bulan maret. Kalau menurut saya, bulan maret adalah bulan kesedihan, bulan perpisahan. Dengan adanya sistem rolling pekerjaan, yang mengharuskan seorang pekerja/karyawan (terkhusus pegawai negeri) pindah pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain (biasanya setelah 2 atau 3 tahun bekerja di suatu tempat) bulan maret merupakan masa-masa terakhir mengakhiri semuanya. Mengakhiri sebuah rutinitas pekerjaan di suatu tempat setelah 2 atau 3 tahun digelutinya. Tentunya berpisah dengan rekan kerja setelah beberapa tahun menghadapi suka duka bersama, adalah sesuatu yang tidak mengenakkan. Setidaknya itulah yang saya pikirkan, tapi tidak tahu sebenarnya seperti apa yang dipikirkan oleh orang jepang tentang adanya sistem perputaran pekerjaan ini.

Tak terkecuali komunitas kami yang tidak seberapa di kota Gifu ini. Dari 5 students yang lulus program doktoral, 3 memutuskan untuk pulang ke Indonesia, 1 memutuskan untuk tetap bersama kami di Gifu, dan 1 orang lagi harus pindah ke kota lain. Tentunya tidak enak, ditinggal pergi sahabat, yang setelah beberapa tahun menjalani kehidupan bersama di suatu tempat. Iya, di kota kecil inilah kami seiring sekata dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang mahasiswa yang merantau menimba ilmu di negeri orang. Perpisahan memang selalu tidak mengenakkan.

Setelah bulan maret berlalu dan memasuki awal bulan april, seiring dengan mekarnya sakura di hangatnya suasana sekitar jepang, semua seolah mengalami sebuah perubahan baru. Teman baru, kelas baru, dan suasana baru. Semoga seiring dengan suasana yang menghangatkan jiwa ini, semangat untuk menuju ke arah yang lebih baik, tetap terjaga dalam benak.

Ohanami adalah istilah yang digunakan untuk mengartikan sebuah  aktifitas menikmati suasana mekarnya sakura bersama rekan, sahabat, kerabat, maupun keluarga. Suasana mekarnya sakura ini, dimanfaatkan untuk menikmati nikmatnya makanan dibawah pohin sakura yang sedang mekar. Nikmat memang, senikmat hirupan hangatnya udara jepang menjelang musim semi.


Belajar di Jepang

February 21, 2008

dcf_0140.jpg

Sejak pertama kali dinyatakan sebagai calon mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Jepang, atas biaya dari Pemerintah Jepang, perasaan senang serta cemas mebayang di depan mata. Maklum saat itu belum pernah merasakan pendidikan di luar negeri yang saya pikir memang pasti akan berbeda dengan yang telah dialamai selama menyelesaikan jenjang sarjana di dalam negeri.

Tahun 2005, tepatnya pada bulan Oktober tanggal 4, akhirnya kutapakkan kakiku untuk yang pertama kali di negeri sakura ini. Saat itu, masih sangat teringat ketika sensei menjemput di pintu keluar bagian imigrasi Chubu International Airport seraya membentangkan kertas karton bertuliskan Mr. Nanung Agus Fitriyanto. Wow, surprise. Sensei yang terhitung sudah berumur ini, rela menjemputku di bandara sendirian, sedangkan jarak dari Universitas ke bandara tergolong jauh, sekitar 1 jam naek kereta. Sebenarnya bisa saja dia menyuruh anak buah (sensei selab yang relatif lebih muda dari beliau, misalnya) untuk menjemputku di bandara. Tapi karena rasa tanggung jawab yang besar, maka dia putuskan untuk menjemput sendiri ke bandara.

Dari pertama sebelum ketemupun, dari beberapa kali wawancara dan diskusi via email, saya tahu persis bahwa sensei yang satu ini benar-benar baik hati. Itulah salah satu yang mendasari dan menguatkan tekadku untuk belajar ke Jepang.

Dan satu hal yang beliau tekankan selama hasil ngobrol ringan di dalam kereta dalam perjalanan pulang dari bandara menuju kampus, adalah KEMANDIRIAN. Belajar di Jepang, apalagi untuk jenjang graduate school (pasca sarjana) haruslah mandiri. Sensei kadang2 terkesan hanya sebagai penaggungjawab, penentu keputusan, dan penguji saja. Sensei tidak akan pernah mendekte kita harus A, harus B, ataupun harus C. Satu hal lagi. GAMBATTE (mungkin kalau dibahasa indonesiakan bisa berarti, KEMAUAN YANG KERAS dan TIDAK PANTANG MENYERAH).

Hal terpenting yang bisa diambil dari pembicaraan awal dengan sensei didalam kereta, akhirnya saya pegang teguh selama menjalani pendidikan pasca sarjana di Jepang ini.


“Pengajian Bapak-bapak” PPI Komsat Gifu

January 7, 2008


Libur musim dingin, natal dan tahun baru

January 3, 2008

Disini, saat ini, dan sejak minggu lalu, kampus seperti tak berkehidupan dan terasa benar-benar sepi. Sepi, menambah dinginya  suasana musim dingin di saat pergantian tahun 2007/2008. Sangan berbeda dengan suasana di beberapa mal-mal besar di sekitar sini. Musim liburan sangat dimanfaatkan oleh orang jepang untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Dan terkhusus dengan libur akhir tahun, biasanya toko-toko pada obral barang dagangannya.

Seperi pengalaman hari kemaren, gara-gara harus ke toko 100 yen di malera (mal terbesar di Gifu) untuk mencari keperluan seminar minggu depan, saya harus mengantri di macetnya jalan menuju ke mal tersebut. Belum ditambah lagi dengan susahnya mencari tempat parkiran setelah berhasil memasuki area mal.

Wow fantastis. Kadang kalau dipikir, dengan daya beli yang sebegitu tinggi, apa sich yang ndak kebeli sama orang2 jepang itu? Cuma kalau musim obral dan banting harga begini, lha kok yo sama saja, mereka pada berjubel untuk mendapatkan barang murah. Intinya ya sama saja, ndak mikir orang punya duit apa enggak, kalau ada barang yang murah, ya disabet saja.

Cuma, sayangnya tidak sama dengan kios2 kecil, ataupun toko2 stasioneri deket rumah. Mereka mending menutup tokonya, meiburkan karyawan, dan ikut menikmati liburan akhir tahun ini. Kalau dibayangkan di Indonesia, ya seperti inilah suasanya lebaran idul fitri di kampung halaman.

Anyway, besok, jumat 4 Januari 2008, kampus, sekolah, dan institusi pendidikan yang lain, bakalan mulai beraktifitas lagi, tak terkecuali, tempat-tempat yang lain, seperti restoran, tempat belanja sayur, dan lain-lain.

Selamat tinggal tahun 2007 dan selamat menyongsong tahun 2008. Semoga tahun ini bisa menambah semangat beajar, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Wassalam

sebuah catatan di awal tahun 2008


Tradisi bonenkai dan bersih2 tahunan

December 26, 2007

Jepang, yang banyak dikenal sebagai kota yang tertata rapi, mempunyai tradisi2 yang sebenarnya tidak salah kalau kita contoh. Di Jepang, hampir diseluruh pelosok, lingkungan tertata rapi dan kelihatan nyaman huni. Ini tidak terlepas dari pribadi bangsa jepang yang memang senang dengan kebersihan.

Di laboratorium yang sekarang saya tempati untuk belajar, tradisi bersih-bersih tahunan (menjelang bonenkai atau pesta akhir tahun) telah menjadi tradisi turun temurun dari jaman bahela. Dengan usaha menciptakan tempat belajar dan bekerja yang nyaman, tentunya akan memberikan kenyaman hati dan menambah spirit. Ya, asal ndak sampai nggak mau pulang saja karena keenakan kerja di lab, he…he…

Saya yakin tradisi ini tidak hanya terjadi di lab dimana saya belajar saja, tapi saya lihat lab2 yang laindi Universitas Gifu, dan mungkin juga di Universitas lain memiliki tradisi yang sama.

So, kalau ini sesuatu yang baik, kenapa tidak kita conto dan praktekkan saja di negara kita. Kalau semua warga Indonesia punya kesadaran  seperti orang jepang, taat aturan dan displin tinggi, bukan sesuatu hal yang mustahil bangsa kita akan seperti mereka…

Rak yo begitu….

Sekedar corat-coret, sambil nunggu waktu berangkat bonenkai di gifu eki

Wassalam